November 29, 2020
Pertanda Saat Awan Arcus Menyerupai Gulungan Tsunami Muncul

Pertanda Saat Awan Arcus Menyerupai Gulungan Tsunami Muncul

Badan Meteorologi dan Geofisika atau yang biasa di singkat dengan (BMKG) membeberkan pertanda dari fenomena awan arcus menyerupai gulungan  yang nampak berbentuk gelombang tsunami seperti nampak di Aceh.
Peneliti Petir dan Atmosfer BMKG, Deni Septiadi menyebut bahwa awan Arcus menyerupai gulungan yaitu komponen dari awan Cumuliform atau awan yang menyerupai dengan bunga kol.

Awan Cumuliform sendiri bisa mewujudkan angin puting beliung, petir, hujan ekstrem, hingga hujan es yang sangat ekstrim.

Sehingga, ia mengingatkan awan hal yang demikian rupa mesti dan wajib dihindari, secara khusus dalam dunia penerbangan karena bisa memunculkan turbulensi yang kuat dan dapat tersambar petir.

Sebelumnya, hal yang sama dibongkar oleh seorang Kepala Seksi Data dan Kabar Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun I Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh, Zakaria.

Menurutnya, awan raksasa itu yaitu awan rendah dan lazimnya berada pada satu titik tahapan. Awan ini juga bisa memunculkan angin pesat, hujan lebat yang disertai kilat, petir, angin puting beliung atau hujan es.

Kapan awan Arcus dapat terwujud?

Deni membeberkan musim peralihan ke musim hujan menjadi peristiwa paling sering kali awan bak gulungan tsunami ini dapat terwujud.

“Musim-musim peralihan pada bulan September, bulan Oktober, November dan musim hujan Desember, Januari, dan Februari itu yaitu waktu yang paling mensupport pertumbuhan awan seperti ini yang berbentuk Cumuliform,” ujarnya melewati pesan singkat terhadap Kami, Selasa (11/8).

Deni menjelasakan bahwa awan Arcus menyerupai gulungan benar-benar mudah tumbuh dan berkembang di Indonesia. Waktu pembentukan bisanya terjadi setelah insolasi maksimum pukul 13:00.

Bagaimana awan Arcus dapat terwujud?

Prakirawan cuaca BMKG Irsal Yuliandri menyebut bahwa awan Arcus terwujud imbas ketidakpastian atmosfer sepanjang atau di depan pertemuan massa udara dingin. Kerja itu segera mensupport massa udara hangat dan lembab naik hingga membentuk shelf cloud.

Lebih lanjut, menurut Deni, awan Arcus terdiri dari dua buah variasi, yaitu shelf cloud yang wujudnya melekat pada awan Cumulonimbus dan roll cloud yang terpisah dari awan badainya. Adapun yang terjadi di Aceh, kata ia yaitu awan Arcus berjenis shelf cloud.

Menurutnya, awan Arcus menyerupai gulungan terwujud dari awan Cumulonimbus konvektif dewasa atau mature.

“Di dalam awan Cb itu sendiri terjadi peredaran internal yang benar-benar kuat imbas adanya aliran udara ke atas atau aliran udara ke bawah. Sehingga memungkinkan awan itu tumbuh membumbung secara vertikal menembus troposfer,” ujarnya.

Meskipun demikian, Deni juga mengatakan partikel aliran udara yang dingin, yang terwujud di dalam komponen atas awan itu akan turun seiring dengan aliran udara ke bawah mengikuti kecepatan terminal imbas gravitasi. Partikel aliran udara dingin itu, lanjut ia juga akan terangkat secara masif oleh aliran udara kuat di luar metode awan komponen luar.

“Dengan demikian aliran udara dingin, lembab, dan basah akan membentuk gelombang-gelombang seperti tsunami yang angker dengan panjang beberapa kilometer secara horizontal,” ujar Deni.

Arcus dan cummulonimbus

Deni menuturkan awan Arcus yang mirip gulungan tsunami yaitu aksesoris dari awan Cumulonimbus (Cb). Salah satu ciri awan ini yaitu pertumbuhannya yang pesat.

Perbedaanya, awan Arcus tumbuh melebar dan ketinggiannya cuma sekitar 2 km. Meskipun Cumulonimbus yaitu awan vertikal yang padat dan membumbung.

“Kita bisa identifikasi sesungguhnya awan itu variasi Cumuliform dengan ketinggian yang rendah sekitar 2 kilometer,” ujar Deni.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *